Persiapan ternak, pembibitan, panen dan penyakit ikan gurami

Ketika saya menurunkan tulisan tentang beternak ikan gurami atau gurame atau gurameh (grameh-Jawa) banyak tanggapan yang menunjukkan ketertarikan. Pertanyaan paling banyak adalah pengelolaan anakan yang banyak mati karena penyekit dan beberapa faktor lainnya.
http://kicauan.files.wordpress.com/2010/03/ikan-gurami.jpg?w=620
Berikut ini saya turunkan lagi tulisan mengenai budidaya ikan gurami yang saya ambil dari milis agromania. Dalam tulisan ini, disinggung tentang beberapa penyakit dan hama yang biasa menyerang ikan gurami dan penanganannya. Semoga bermanfaat.
Gurami dikenal sebagai ikan yang lambat pertumbuhannya. Untuk membesarkan benih ukuran 2-3 cm Sampai siap konsumsi (500 g) diperlukan waktu sekitar 1,5 tahun. Wajar bila banyak yang enggan mengusahakannya. Kini hal ltu bisa diatasi dengan menerapkan pola budidaya secara bertahap. Pemeliharaan di kolam intensif selama 12-14 bulan Osphronemus gouramy, itu mencapai bobot 500 g/ekor. Ini adalah beternak dengan cara segmentasi. Dengan segmentasi ini, “Beternak gurami lebih cepat, setiap tahap 3-4 bulan,“ ujar Azhari, petani di Dramaga, Bogor.
Pemilik 10 petak kolam ukuran 200 m2 itu menebar berbagai ukuran. “Kalau ada yang membutuhkan, tinggal dipanen. Tak perlu dibesarkan hingga ukuran konsumsi”. Untung yang diraih per segmen budidaya pun jelas. Misalnya, benih ukuran wadah korek (4-5 cm) dibeli seharga Rp 1.250/ekor. Jika ditebar 3.000 benih di kolam seluas 100 m2. (Maaf, ini adalah arsip lama, jadi untuk masalah harga bisa diabaikan – Om Kicau).
3 bulan berikutnya dipanen ukuran bungkus rokok (10 cm). Harganya bisa 2 kali lipat. Dengan kematian 10% petani bisa mengantongi Rp 3 juta belum termasuk biaya pakan dan tenaga kerja.
Pemeliharaan gurami di kolarn intensif per segmen menghemat waktu 2-4 bulan. Dengan cara itu “Perputaran modal juga cepat,” tegas Julius Tirta Sendjaya petani di Parung. Selain itu ukuran kolam budidaya tidak luas, 100-500 m2 tapi dalam jumnlah banyak. Selain kolam pendederan. ada yang untuk pembesaran. Kesehatan ikan dapat dikontrol sehingga kegagalan panen akibat penyakit dapat diminimkan.
TERGANTUNG MODAL
Petani bermodal minim bisa memulai usaha dan pembenihan. Modal besar, pembesaran. Semua segmen budidaya pun tidak masalah. Toh, jika tidak ada permintaan benih bisa dibesarkan lagi hingga siap konsumsi.
Pembenih hanya menghasilkan benih ukuran kuku (2-3 cm). Modal yang diperlukan sepasang induk dan wadah penetasan, seperti ember, bak fiber, atau akuarium. Perawatan larva sampai burayak di akuarium lebih mudah. Selain kesehatannya mudah di kontrol juga bisa diusahakan di lahan terbatas. Pembesaran pilihannya lebih banyak.
Pertama, membesarkan benih ukuran kuku hingga sebesar wadah korek (4-5cm).
Petani juga bisa memulai usaha dan benih ukuran wadah korek, lalu dibesarkan hingga seukuran bungkus rokok (9-10cm). Atau dimulai dan benih ukuran bungkus rokok sampai siap konsumsi.
Sebelum mulai usaha perlu mengetahui syarat-syarat gurami tumbuh dengan baik. Di antaranya pemilihan lokasi, konstruksi kolam, benih berkualitas, dan perawatan yang benar.
SYARAT LOKASI
Gurami termasuk ikan yang mudah dibudidayakan. Ia bisa hidup di sembarang tempat. Meskipun demikian, pemilihan lokasi yang tepat juga perlu diperhatikan. Di lokasi berketinggian 20-400 m dpl pertumbuhan ikan cukup baik. Namun, di dataran tinggi, 800 m dpl pertumbuhannya agak lambat.
Lokasi budidaya harus memiliki suhu dan kualitas air sesuai kemauan gurami. Ia tumbuh baik di daerah bersuhu 25- 28C. Meskipun demikian, ia sangat peka terhadap perubahan suhu. Lokasi yang memiliki perbedaan suhu siang dan malam tinggi kurang baik untuk gurami.  Apalagi daerah yang suhunya seringkali berubah-ubah bisa menyebabkan ikan stres.
Kepekaan gurami terhadap suhu dapat diatasi dengan merekayasa lingkungan hidupnya. Penyebab naiknya suhu adalah panas matahari.
Ketika cuaca panas tinggi air yang umum digunakan 70 80 cm, ditingkatkan l0-20 cm. Saat penghujan tiba biasanya suhu dingin dan diatasi dengan menurunkan tinggi air.
Kualitas air di lokasi mendukung pertumbuhan ikan. Ia harus mengandung cukup mineral dan zat-zat hara yang dibutuhkan.
Ketersediaan pakan alami yang cukup bisa meningkatkan kelulusan hidup benih pada tahap awal budidaya.
Kadar oksigen tidak berpengaruhi terhadap kehidupan gurami. Ia memiliki labirin yang berfungsi untuk mengambil udara. Angka pH air ideal 6,5- 7, kesadahan 7HD. Air dan sungai atau irigasi teknis bisa dipakai asal tidak tercemar limbah pestisida atau sisa-sisa pembuangan rumah tangga.
Gurami menyukai air yang bersih. Air kerub dikhawatirkan mengandung kotoran. Jika kotoran itu bercampur sisa-sisa pakan akan terjadi pembusukan. Hal itu memicu timbulnya bakteri, parasit, dan cacing.
Pakan gurami harus tersedia secara kontinyu di lokasi. Pelet bisa didatangkan dan daerah lain. Namun, daun sente (Alocasia macrorrhiza), kegemaran gurami terkadang langka. Karena kebutuhan daun-daunan itu cukup besar sebaiknya petani menanamnya di sepanjang pematang kolam.
PERSIAPAN KOLAM
Persiapan kolam merupakan langkah awal proses budidaya. Ada 2 cara yang bisa dilakukan, yakni membuat kolam baru dan pengolahan tanah seusai panen. Jika membuat kolam baru, konstruksi dibuat kuat dan kokoh. Bentuk kolam umumnya sama dengan ikan lain. Ukurannva tergantung kemampuan modal dan luas lahan. Dinding kolam dirancang agar tak mudah bocor atau terkikis. Kemiringannya 60 derajat dan dasar kolam.
Pematang antar kolam dibuat kuat dan lebar untuk mengantisipasi longsor. Tinggi pematang kurang lebih 125 cm diukur dari dasar kolam. Permukaan dasar kolam dibuat agak miring. Tujuannya untuk memudah pembuangan air dan panen. Saluran pemasukan dan pengeluaran air pada setiap kolam dibuat terpisah. Tujuannya untuk menghindari penularan penyakit ke kolam lain.
Kedua saluran diletakkan di kedua dinding secara diagonal atau menyilang. Pralon pvc atau bambu umum digunakan. Jumlahnya tergantung luas kolam, ukuran 100 m2 cukup 2 saluran air. Lubang air ditutup kasa agar kotoran tidak ikut masuk ke kolam.
Kualitas tanah yang baik menciptakan kondisi lingkungan yang layak untuk gurami. Karena itu keasamannya harus dipertahankan. Caranya dengan menaburkan kapur sebanyak 100 g/m2 dan 200 g/m2 garam dapur.
Penanganan kolam yang sudah produksi lain lagi. Sebelum digunakan air dibuang habis lalu dasar kolam dijemur hingga kering. Tujuannya untuk mematikan bakteri, jamur, dan cacing. Kotoran atau sisa-sisa pakan yang menumpuk dibuang.
Setelah kering, tanah dicangkul sedalam 10-20 cm lalu dibalik dan ratakan. Lapisan atas dianggap sudah tidak kaya hara sehingga perlu diganti yang bawah. Jemur di terik matahari sampai kering. Untuk menjaga keasaman tanah taburkan kapur 100 g/m2 dan 200g/m2 garam dapur.
PENGISIAN AIR
Kolam yang sudah siap segera diisi air secara bertahap. Setelah mencapai tinggi 20 cm saluran air ditutup. Taburkan pupuk kandang, seperti kotoran ayam (postal) sebanyak 500 g/m2. Tujuannya untuk menumbuhkan plankton. Air dibiarkan menggenang selama beberapa hari agar terjadi proses dekomposisi atau penguraian.
Yang perlu diperhatikan kehadiran anak katak/percil, burayak mujair, atau lele yang seringkali ikut terbawa air. Untuk mengatasinya taburkan saponin sebanyak 5-10 kg. Alternatif lain dengan pemberian daun lampesan (Hyptis suaveolens) secukupnya.
Saponin bisa mematikan hewan-hewan berdarah merah sedang lampesan hanya memabukan.
Pesaing atau predator yang sudah mati itu dibuang agar tidak busuk.
Beberapa hari kemudian air berubah menjadi hijau tanda bibit plankton sudah ada. Masukkan air secara bertahap hingga mencapai tinggi 60- 80 cm. Pupuk buatan, seperti SP-36 sebanyak 20 g/m2 dapat diberikan untuk mempercepat pertumbuhan pakan alami. Diamkan selama 5-7 hari sampai wama air berubah menjadi hijau segar. Saat itu benih sudah siap ditebar.
TABUR BENIH
Pilih benih sehat untuk ditebar. Ciri benih yang baik, gerakan renangnya lincah, sisik mengkilap, bebas penyakit, dan ukuran seragam. Benih kurang seragam menyebabkan persaingan mendapatkan pakan dan ruang gerak. Ikan berukuran lebih besar dipastikan tumbuh lebih cepat, sementara yang kecil tetap kuntet.
Ada beberapa jenis gurami yang sudah dikembangkan, seperti paris, safir, merah, jepang, dan soang. Setiap jenis memiliki kelebihan masing-masing. Yang perlu diperhatikan asal benih.
Usahakan jaraknya tidak jauh dengan lokasi supaya tidak “mabuk” selama pengangkutan. Penebaran dilakukan pada pagi atau sore hari. Saat itu cuaca redup sehingga penyesuaian berlangsung lebih cepat dan menghindari benih stres. Secara perlahan-lahan kantung benih dimasukkan ke air.  Biarkan beberapa saat agar suhu di kantung sama dengan air kolam.
Buka kantung lalu tuang ke air. Biarkan benih berenang sendiri.
PERAWATAN BERTAHAP
Gurami yang dipelihara dari benih ukuran 2 cm sampai siap konsumsi memerlukan waktu lama.
Dengan segmentasi budidaya relatif lebih cepat. Tahapan itu dimulai dan pembenihan, pendederan hingga pembesaran. Setiap segmen dilakukan di kolam terpisah dan penanganan berbeda.
a. Pembenihan
Pembenih hanya menyediakan benih sebesar kuku atau ukuran 2-3 cm.  Modalnya sepasang induk, kolam perkawinan. sarang telur, dan akuarium untuk penetasan sekaligus perawatan.
Induk siap kawin dimasukkan ke kolam. Sarang dan ijuk untuk melekatkan telur diletakkan di pinggir. Keesokan han dicek, jika sudah berisi telur, angkat lalu dimasukkan ke akuarium. Sehari kemudian telur sudah menetas.
Larva belum diberi pakan, toh, persediaan pakan di kantung telur (yolk sack) cukup selama 2 hari. Setelab cadangan makanannya mulai menipis, kutu air atau artemia diberikan. Usahakan pemberian tidak terlambat. Larva yang terlanjur kelaparan kondisinya Iemah. Dua hari berikutnya barulah diberi cacing rambut. Biasanya pertumbuhan ikan cepat setelah makan cacing rambut. Dalam waktu 30 hari sejak tetas benih sudah sebesar biji oyong (1 cm).  Dengan cara ini kelulusan hidupnya mencapai 95%.
Jika menginginkan benih agak besar, perawatan di akuarium dilanjutkan kembali. Populasi dijarangkan dengan cara memindahkan sebagian benih ke tempat lain. Pakan utama tetap cacing rambut.  Sistem pemeliharaan dengan air mengalir.
Setelah 1 bulan diperoleh benih ukuran kuku (1-3 cm). Benih ini bisa dipanen dan siap ditebar ke kolam.
b. Pendederan
Pendederan dilakukan di kolam ukuran 50-100 m2. Benih sebesar kuku ditebar dengan kepadatan 40 ekor/m2. Contoh, ukuran kolam 100 m2 memerlukan benih sekitar 4.000 ekor. Tinggi air 30-40 cm dengan debit air 10 liter/menit.
Seminggu atau 10 hari setelah tebar benih belum diberi pakan buatan.  Di samping ukuran mulut belum mampu menelan pelet, pakan alami yang tersedia di kolam sudah cukup. Pada hari ke-11 pelet baru boleh diberikan. Pelet yang diberikan mengandung 50% protein. Kebutuhan pakan per hari dihitung menurut bobot ikan, biasanya dipatok 1 %. Jumlah pakan yang diberikan kecil, tapi frekuensinya diperbanyak. Yang umum 2-3 kali, ditingkatkan menjadi 6 kali.
Perawatan sehari-hari selain memberi pakan, ikan selalu dikontrol kesehatannya. Benih sebesar ini masih rentan serangan penyakit.  Kualitas air yang masuk ke kolam selalu dicek. Bila lingkungan kolam terlihat ada tanda-tanda berubah segera diberi tindakan pencegahan.
Ketika cuaca panas misalnya, suhu air akan meningkat. Sebelum ikan stres sebaiknya volume air ditingkatkan. Sebaliknya, ketika suhu dingin di musim hujan tinggi air dikurangi. Selain itu, pH air tak luput dan perhatian. Saat penghujan biasanya pH air turun. Kondisi seperti itu bisa mengundang kehadiran penyakit. Untuk menstabilkannya taburkan garam secukupnya.
Sampling berat ikan setiap bulan merupakan kegiatan rutin. Dengan cara itu bisa diketahui pertumbuhan ikan. Keseragaman ukuran sangat penting untuk menentukan jumlah pakan yang diberikan. Karena itu perlu dilakukan sortir, ukuran yang tidak standar dipindah ke kolam lain.
Pemeliharaan selama 45-60 hari menghasilkan benih sebesar dim/silet atau 4-5cm.
Benih bisa dipanen dan siap dijual. Bila tidak ada permintaan benih, proses budidaya dilanjutkan lagi. Namun, kepadatan ikan dikurangi menjadi 30 ekor/m2. Pemeliharaan selama 60 hari diperoleh benih ukuran wadah korek atau 7-8 cm.
c. Pembesaran
Tahap pembesaran dimulai dan benih sebesar korek atau ukuran 7-8 cm.  Kolam pembesaran yang digunakan berukuran 100-500 m2. Kepadatan tebar 20 ekor/m2. Contoh, untuk kolam ukuran 500 m2 dibutuhkan benih sekitar 10.000 ekor. Tinggi air 70 cm dengan debit air yang masuk ke kolam 15 20 liter/menit.
Pakan buatan per hari diberikan 1% dan bobot ikan. Frekuensi pemberian 2-3 kali, pukul 07.00, 11.00, dan 13.00. Pelet yang digunakan harus mengandung 25% protein. Pakan tambahan berupa daun sente. Kebutuhan-nya per hari 10% dari bobot ikan diberikan sekali pada sore hari, pukul 17.00.
Perawatan sehari-hari di tahap ini hampir sama dengan tahap pendederan. Benih masih relatif rentan serangan penyakit dan mudah stres bila ada gangguan atau perubahan lingkungan secara mendadak.
Untuk menghasilkan benih sebesar bungkus rokok atau 10-12 ekor per kilo dibutuhkan waktu 75 -100 hari. Benih sebesar itu sudah bisa dipanen dan dijual. Atau dipindah ke kolam lain untuk dibesarkan hingga ukuran konsumsi.
Kolam pembesaran berukuran lebih besar. Ukuran kolam 500 m2 tidak masalah. Yang penting kepadatan ikan dikurangi 10 ekor/m2. Tinggi air dinaikkan menjadi 80 cm, debit air 20 liter/menit. Pakan buatan diberikan 2 kali sehari., pukul 08.00 dan 13.00. Pelet harus mengandung 20%protein. Pakan tambahan daun sente cukup 10% dari bobot ikan diberikan pada sore hari, pukul 16.00.
Benih sebesar itu sudah agak tahan serangan penyakit. Namun, perlu diwaspadai kondisi lingkungan kolam. Perawatan dan pengontrolan setiap hari dianggap perlu. Pemberian garam secukupnya rutin setiap bulan untuk mencegah munculnya penyakit.
Pembesaran ini memerlukan waktu 90-100 hari untuk mendapatkan ikan ukuran konsumsi, 500 g/ekor.
Ikan sebesar itu bisa dipanen dan siap dijual ke pasar atau restoran. Bila belum ada order, ikan tetap dipelihara di kolam. Namun, pemberian pakan tidak terlalu intensif.  Pelet bisa diberikan sekali pada pagi hari, sore daun sente. Ini dilakukan agar pengeluaran tidak mcmbengkak.
PENYAKIT GURAMI
Penyakit merupakan masalah utama budidaya gurami. Kehadirannya perlu diwaspadai, sebab serangannya bisa menyebabkan kematian sehingga gagal panen. Penyebab yang kerap dijumpai seperti bakteri, jamur, parasit, dan cacing.
Mereka muncul akibat lingkungan kolam yang kotor. Karena itu periu dicermati kepadatan tebar kualitas air dan pakan berlebihan. Berikut beberapa penyakit yang kerap ditemui di kolam.
Kutu ikan
Penyakit ini disebabkan parasit Argulus indicus. Serangannya dengan cara menempel lalu menggigit tubuh. Ikan yang terserang akan mengalami pendarahan. Penularan ke ikan lain melalui air atau kontak langsung. Parasit ini muncul pada kolam-kolam yang kualitas airnya buruk.
Cara pengendalian dengan mengeringkan kolam seusai panen sehingga telur-telurnya mati. Ikan yang sudah terserang diobati. Caranya dengan menaburkan garam sebanyak 10-15 kg/m3 ke kolam.
Usahakan saat pengobatan saluran masuk ditutup, air diturunkan 10-20 cm. Sehari kemudian air bisa ditambahkan. Atau ikan sakit direndam air yang sudah dibubuhi garam sebanyak 10-15 gr/l selama 15 menit.
Cacing ikan
Penyebabnya parasit Dactylogyrus dan Gyrodactylus. Kualitas air yang buruk, kurang pakan, kepadatan tinggi. dan perubahan lingkungan mendadak memicu munculnya keluarga cacing itu.
Gejala awal ditandai nafsu makan ikan menurun, sering muncul di permukaan air, dan terkadang berbaring dengan insang terbuka.  Dactylogyrus lebih menyukai insang Gyrodactylus menyerang bagian badan dan sirip.
Cara penanggulangannya dengan mengganti air dalam jumlah besar.  Taburkan garam dapur 40 g/m3 ke kolam, lalu tutup saluran air selama 24 jam. Ikan sakit direndam kelarutan garam dapur sebanyak 40 mg/l air.
Mata BELO
Gejala penyakit ini ditandai mata membengkak dan menonjol keluar dan kelopaknya. Ikan yang terserang akan buta. Lama-kelamaan kondisi tubuh lemah dan akhirnya mati. Penyebab penyakit ini diduga karena virus/cacing. Serangan awal ditandai kondisi ikan lemah, nafsu makan kurang, dan sering muncul ke permukaan. Saat itu bisa dilakukan pengobatan dengan cara menaburkan garam 1 kg/m3. Saluran air dihentikan selama 24 jam. Keesokan harinya baru diganti total.
Cara lain dengan memberikan antibiotik yang dicampur dengan pakan.  Selama pengobatan air bisa diganti total. Biasanya pengobatan itu hanya menyelamatkan ikan yang masih sehat. Ikan yang sudah mati diambil lalu dibakar.
Jamur
Gejala awal serangan ditandai benang-benang halus mirip kapas menempel pada tubuh yang terluka.
Penyebabnya jamur Saprolegnia dan Achyla. Dalam waktu relatif cepat jamur ini menyebar keseluruh ikan di kolam. Jamur ini tidak menimbulkan kematian, tapi kondisi ikan lemah, nafsu makan kurang.  dan akhirnya kurus. Lemahnya daya tahan tubuh membuka peluang kehadiran penyakit lain.
Cara penanggulannya dengan memberi garam sebanyak 400 mg/m3. Pada saat pengobatan saluran air dihentikan. Perlakuan itu diulang 3 kali secara berurutan dan dilanjutkan setiap bulan. Ikan yang sakit direndam dalam larutan garam 20 mg/l air atau malachyte oxalate 1 mg/l atau dosis 0.1 – 0,5 mg/l selama 12-24 jam. Alternatif lain dengan merendam ikan ke larutan formalin 200 ppm selama 2jam.
Bakteri
Penyebabnya Aeromonas sp dan Pseudomonas sp. Bakteri ini sering dijumpai pada kolam yang tercemar bahan organik. Keduanya seringkali ditemui di musim kemarau atau menjelang penghujan. Air kolam kurang baik atau perbedaan suhu siang dan malam hari juga berperan munculnya penyakit ini.
Gejala klinis dicirikan luka di tubuh dan berdarah, perut membesar, lendir mencair, sisik mengelupas, dan timbul borok. Dalam waktu singkat kondisi ikan lemah. sering muncul ke permukaan, lalu mati.  Serangan penyakit ini perlu diwaspadai sebab tak jarang berakibat kematian massal.
Cara penanggulangannya dengan merendam ikan sakit ke larutan oxytetracycline 2 5 mg/l air selama 24 jam. Perlakuan itu diulang 3 kali secara berurutan. Ikan yang terinfeksi bisa direndam larutan malachite green oxalat 0,5 mg/l selama 1 jam. Satu bulan kemudian ikan diberi pakan yang mengandung oxytetracycline 60 mg/kg pakan selama 7 hari berturut-turut.
Bercak putih
Parasit Ichthyophthyrius sp merupakan penyebab penyakit ini. Ia menyerang kulit ikan dan menimbulkan bercak-bercak putih. Gejala klinis ditandai bercak putih menyebar di tubuh, warna sisik pucat.  ikan sering menggosokkan badan dan tampak megap-megap seolah kekurangan oksigen. Ikan yang terserang direndam dengan larutan formalin 25 mg/l ditambah malachite green oxalat 0,2 mg/l selama 24 jam.
PANEN
Panen merupakan akhir kegiatan budidaya. Keberhasilan usaha dapat diketahui dari jumlah tonase atau pertumbuhan selama periode waktu tertentu. Ada 2 cara panen, yaitu benih dan ukuran konsumsi.
Panen benih dilakukan dengan cara menurunkan air sampai ketinggian tertentu. Aliran air diperkecil sampai tersisa di kowen (lubang kecil di sudut kolam). Di atas kowen diberi dedaunan, seperti daun pepaya talas, atau pisang agar benih merasa aman dan nyaman. Benih yang sudah terkumpul ditangkap dengan saringan atau jaring mesh size kecil. Satu per satu benih dimasukkan ke ember. Kemudian angkut ke tempat penampungan sementara berupa hapa yang dipasang di kolam atau saluran air.
Seleksi ukuran dan kesehatan ikan, lalu pindahkan ke wadah lain.  Sebelum dikirim ke tempat tujuan sebaiknya benih dibera atau dipuasakan selama 1 hari.
Panen ukuran konsumsi sebaiknya menggunakan jaring. Cara ini lebih mudah dan ikan tidak rusak. Selama proses pemanenan kolam tidak perlu dikeringkan. Air kolam cukup dikurangi sesuai tinggi jaring.
Jaring direntangkan dan ujung kolam dan ditarik secara perlahan-lahan. Prinsipnya untuk memperkecil ruang gerak ikan sampai terkumpul di saiah satu sisi kolam. Masukkan beberapa lembar daun pisang kering atau talas agar ikan merasa nyaman. Kemudian satu per satu ikan ditangkap dengan hati-hati, lalu dimasukkan ke wadah penampungan. Sebelum diangkut ikan sebaiknya dipuasakan selama 1- 2 hari.
PASCA PANEN
Pengangkutan gurami harus hati-hati. Tak jarang kasus ikan mati di tempat tujuan akibat salah angkut, seperti kepadatan tinggi dan dilakukan secara mendadak tanpa ada proses penyesuaian. Yang perlu diperhatikan selama pengangkutan kondisi ikan harus segar.
Pengangkutan benih sampai ukuran 5 cm masih memerlukan oksigen. Sebab, alat pernafasan tambahan (labirin) belum terbentuk sempurna.
Kepadatan benih disesuaikan ukuran dan lokasi pengiriman. Untuk pengiriman jarak dekat (25 km) atau selama 1 jam, jumlah benih bisa diperbanyak. Lain hal bila lokasi tujuan relatifjauh (100 km) sebaiknya benih tidak terlalu padat. Masalah akan timbul jika gurami ukuran konsumsi yang diangkut terlalu padat. Duri sirip atau tutup insang akan saling melukai sehingga ikan menjadi stres, lalu mati.
Untuk mengurangi stres gerakan ikan diupayakan seminimal mungkin.  Caranya dengan menurunkan suhu air atau obat bius, seperti phenoxyethanol, dosis 0,15 mg/l air. Gurami dengan bobot 500-600 gr dapat diangkut dengan kepadatan 15 ekor/ 10 liter air selama 6 jam.
Cara tradisional dengan wadah terbuka seperti jirigen, atau drum  khusus yang diletakkan mendatar. Tinggi air mencapai 10-15 cm sehingga ikan bisa menghirup udara. Pengangkutan dapat dilakukan  dengan kepadatan tinggi 1 ekor/liter air. (Sumber: Milis Agromania).

Variasi ukuran bibit gurami

Sumber:
http://omkicau.com/2010/03/07/

4 Comments

Tips Dasar Budidaya Ikan Gurami

Selain lebih mahal, ikan Gurame memiliki banyak penggemar fanatik, sehingga cocok dikembangkan untuk menambang keuntungan.

Ikan gurame adalah ikan air tawar yang banyak digemari konsumen. Dagingnya empuk, rasanya enak dan gurih. Dan, harganya pun lebih mahal kalau dibandingkan jenis ikan air tawar lainnya. Sebagai perbandingan, harga gurame segar di tingkat konsumen Rp25.000 – Rp 35.00 per kg, sementara ikan mas Rp12.000 – Rp14.000 per kg.

Selama ini masyarakat mengenal beberapa jenis gurame, antara lain: Angsa, Jepun, Blausafir, Paris, Bastar dan Porselen. Gurame Porselen lebih unggul dalam hal menghasilkan telur. Jika induk Bastar hanya mampu menghasilkan 2.000-3.000 butir telur, Porselen memproduksi 10.000 butir. Karena itu Gurame Porselen disebut top of the pop.

Kolam yang baik untuk gurame berasal dari jenis tanah liat/lempung, tidak berporos dan cukup mengandung humus. Jenis tanah seperti ini dapat menahan massa air yang besar dan tidak bocor. Kemiringan tanah berkisar 3-5% untuk memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.

Ikan gurame dapat tumbuh normal di daerah pada ketinggian 50-400 m dpl. Kualitas air pemeliharaan harus bersih, dasar kolamnya tidak berlumpur dan tidak terlalu keruh. Kedalaman kolam 70-100 cm. Pengairan yang baik akan mempengaruhi pertumbuhan ikan.

Pembesaran gurame dapat dilakukan secara polikultur dan monokultur. Polikultur adalah cara pemeliharan gurame secara bersama-sama dengan ikan jenis lain, seperti tawes, mas, nilam, atau mujair. Cara ini lebih menguntungkan, mengingat pertumbuhan gurame lambat.

Sedangkan monokultur, pemeliharaan khusus untuk gurame. Bibit yang ditebar minimal berumur 2 bulan. Debit air kolam yang baik 3 liter/detik, sedangkan polikultur idealnya 6-12 liter/detik. Dengan keasaman air (pH) 6,5-8, dan suhu berkisar 24-28 derajat C.

Kolam budidaya gurame terdiri dari kolam penyimpanan induk, pemijahan, pendederan, pembesaran, dan pemberokan. Kolam pembesaran berfungsi membesarkan benih. Adakalanya diperlukan juga beberapa kolam jaring berukuran 1,25-1,5 cm. Jumlah bibit yang ditebar sebaiknya tidak lebih dari 10 ekor/meter persegi.

Kolam pemberokan adalah tempat pembersihan ikan sebelum dipasarkan. Kolam ini berukuran 10 x 10 m. Lebar pematang bagian atas 0,5 m, dan bagian bawah 1 m dengan ketinggian 1 m.

Makanan pokok ikan gurame berupa pelet. Namun, di daerah yang sulit memperoleh pelet dapat menggunakan alternatif lain, berupa daun-daunan, seperti: pepaya, keladi, ketela pohon, genjer, kimpul, kangkung, ubi jalar, ketimun, labu dan dadap.

Pemupukan sebaiknya dilakukan setiap kali pemeliharaan, dan pada saat kolam dikeringkan, dengan tujuan untuk meningkatkan makanan alami. Caranya, pertama-tama diberi pupuk kandang 7,5 kg untuk tiap 100 m2 kolam. Air disisakan sedikit demi sedikit sampai ketinggian 10 cm, dan dibiarkan selama 3 hari. Kemudian dilanjutkan pupuk buatan (kimia), seperti TSP atau Urea, 500 gram setiap 100 m2 kolam. Pupuk ditebarkan merata ke setiap dasar dan sudut kolam.

Panen gurame tergantung permintaan konsumen. Umumnya, setelah gurame berumur 2-3 tahun. Umur 2 tahun, ukuran panjangnya mencapai 25 cm, dan berat 0,3 kg/ekor, umur 3 tahun panjangnya sekitar 35 cm dan beratnya 0,7 kg/ekor. Untuk ikan berumur 4 tahun panjangnya dapat mencapai 40 cm dan berat 1.5 kg/ekor.

Leave a comment

Budidaya Ikan Bawal Air Tawar dan Air Laut

Bawal termasuk salah satu komoditas ikan yang cuup digemari masyarakat. selain harganya yang lebih murah dari daging ayam dan sapi, bawal memiliki daging yang tebal dengan rasa yang lezat, dan tulangnya sedikit. Ada dua macam bawal yang dikenal masyarakat yakni bawal laut dan bawal air tawar. Memiliki kemiripan bentuk seperti badan yang pipih, bulat dan warna kulit perak keabu-abuan, ekor bercagak, dan bersisik halus membuat masyarakat menyebutnya sebagai ikan yang sama, yakni ikan bawal. Padahal kedua ikan ini merupakan jenis ikan yang berbeda.

Serupa Tapi Tak Sama

Bawal Bintang merupakan salah satu jenis ikan bawl air laut yang saat ini tengah populer dan sangat diminati. Bawal Bintang yang banyak dibudidaya saat ini berasal dari perairan laut Taiwan yang banyak dibudidaya petani di tepian laut. Prospek usahanya cukup menggiurkan, mengingat harga 1 kg Bawang Bintang bisa mencapai Rp.60 ribu. Mahalnya harga  bawal air laut ini juga dikarenakan ukuran ikan yang di hasilkan lebih besar dari bawal air tawar serta menghasilkan daging yang lebih kenyal, tidak berbau lumpur dan lebih fresh. Sudah ada beberapa daerah yang telah membudidayakan Bawal Bintang ini seperti di laut Batam, Kepulauan Riau, Kepulauan Seribu dan di daerah situbondo, Jawa Timur.

Sementara itu, yang disebut dengan ikan bawal air tawar merupakan ikan yang berasal dari sungai Amazon, Brazil, Amerika Selatan. Bawal air tawar ini banyak dikembangkan oleh petani di Bogor, Cibaraja, Cisaat, sukabumi, Cilacap, Tasikmalaya dan Garut Jawa Barat. Selain itu, bawal air tawar juga banyak dibudidayakan di Pontianak, Pekan Baru, Medan dan Bali. Meski harganya tak semahal Bawal Bintang, yakni Rp.15 ribu/kg namun bawal air tawar ini memiliki genetik yang bagus sehingga bisa panen lebih cepat yakni sekitar 3 bulan, sedangkan Bawal Bintang perlu waktu 3 – 6 bulan.

Menurut sumber dari Dinas Perikanan dan Kelautan Jawa Barat, prospek usaha budidaya bawal sangat menjanjikan. Pasalnya bawal sangat di minati dan banyak permintaan datang dari hotel, restoran, rumah makan, warung tenda seafood, pengepul dan pasar tradisional. “Besarnya permintaan bawal laut merangsang petani ikan membudidaya ikan bawal tawar yang saat ini menjadi andalan komoditas perikanan air tawar. Bahkan bawal air tawar menjadi alternatif substitusi apabila pasokan bawal air laut menipis”, ujar Ahmad.

Budidaya

Lantaran lokasi budidaya bawal air tawar dan air laut berbeda, tentu investasi yang dikeluarkan juga berbeda. Dari sumber yang kami dapat, untuk memulai usaha budidaya bawal air laut perlu investasi sekitar Rp.40 juta hanya untuk membuat keramba jaring apung (KJA) ukuran 30 m x 30 m di tepi pantai. “Belum lagi untuk bibit dan pakan. Jika di totalkan sampai panen perlu modal sekitar Rp.100 jutaan, yang di panen bisa 7 ton”, menurut sumber kami di Kepulauan Seribu.

Berbeda dengan modal yang di keluarkan untuk budidaya bawal air tawar, sekitar Rp.7-8 juta untuk memulai budidaya 2.000 bibit ikan bawal yang dapan menghasilkan 1 ton ikan bawal pada kolam tanah ukuran 10 m x 10 m.

Menurut sumber kami, secara umum ikan bawal lebih bagus dibudidaya dengan debit air yang cukup deras. Sehingga tepian laut atau dengan membuat kolam air deras dari aliran air sungai sangat bagus untuk mempercepat pertumbuhan. Meskipun demikian, bawal bisa saja dibudidaya di kolam air tenang, hanya saja pertumbuhannya kurang bagus.

Dari sisi biaya produksi, budidaya bawal bisa ditekan, karena bawal itu omnivora (pemakan segala), jadi selain pakan berupa pelet, bawal juga bisa diberi pakan alami berupa keong, siput, dedaunan, limbah sayuran, hingga ikan runcah. Bawal juga memiliki daya cerna makan yang baik. Selain bisa diberi pakan alami, bawal bisa diberikan pakan protein rendah sekitar 20% yang harganya lebih murah sekitar Rp.3-5 ribu/kg dibanding dengan pakan berprotein tinggi. Dengan demikian dari 1 kg pakan yang diberikan dapat menghasilkan daging bawal sebanyak 0,7-0,8 kg (konversi pakan adalah 1:0,7-0,8) yang cukup efisien dan menguntungkan petani.

Sementara itu, di tingkat pembudidaya ikan bawal juga terbagi menjadi dua, yakni pembibitan dan pembesaran. Sumber kami mengatakan bahwa menjadi pembibit juga menguntungakan. Dari sepasang indukan siap kawin umur lebih dari 3 tahun berat 1-1,5 kg dapat menghasilkan 200-300 ribu bibit dalam sekali perkawinan. Menariknya lagi, sejak telur menetas (larva), umur 12 hari sudah bisa menghasilkan uang karena larva sudah banyak dicari petani pembibit untuk dibesarkan dengan harga jual Rp.30/ekor. Larva yang telah berumur lebih dari 12 hari disebut bibit yang juga banyak dicari petani pembesaran seperti bibit ukuran ¾ cm yang dijual dengan harga Rp.150/ekor, ukuran korek (4-5 cm) umur 4 bulan Rp.250/ekor. Hanya dari keuntungan pembibitan bawal, petani mampu memperoleh omset Rp.20-30 juta setiap bulannya. Menariknya, selain waktu pembibitan yang cepat, kolam yang digunakan tidak perlu seluas dan sebanyak kolam pembesaran. Jadi lebih efisien.

Namun jika dihitung, usaha pembesaran bawal lebih mwnjanjikan untung yang lebih besar. Karena harga jual bawal air laut lebih mahal daripada bawal air tawar, maka keuntungan paling besar mampu di raup petani bawal air laut yang berdasarkan pengakuan sumber kami bisa meraih omset Rp.210 juta dengan keuntungan bersih Rp.120 juta tiap bulannya. Sedangkan besarnya keuntungan  yang dihasilkan dari pembudidaya bawal air tawar sebesar Rp.80 juta atau 50% dari omset. Menarik bukan?

Pemasaran

Salah satu kelemahan petani ikan di Indonesia adalah mencari pasar yang bisa memberikan harga bagus. Maka dari itu di beberapa daerah, banyak tengkulak, pengumpul ikan yang membeli bibit atau bawal siap konsumsi dari petani dengan harga murah dan menjualnya dengan harga tinggi ke pasar/konsumen. Bahkan ada pula tengkulak yang sengaja memasok pakan ikan pada petani dan petani wajib menjual hasil panen bawal pada tengkulak tersebut dengan harga yang telah ditentukan.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan sebelum anda memutuskan menjadi petani bibit atau pembesaran ikan bawal. Pertama, lihat seberapa besar prospek pasar yang akan menyerap hasil panen. Jika akan menjadi pembibit hitung berapa banyak pembudidaya di beberapa sentra petani bawal dan berapa banyak penyedia bibit. Begitu juga jika hendak menjadi petani pembesaran. Hitung berapa kapasitas budidaya yang disesuaikan dengan target pasar yang akan dituju seperti berapa banyak tengkulak, tempat pelelangan ikan, atau Anda bisa menjual langsung ke restoran atau rumah makan yang membutuhkan ikan bawal.

Kedua, buat asumsi kasar berapa biaya yang diperlukan untuk memulai usaha dari skala kecil misal tebar 2.000 bibit yang akan menghasilkan 1 ton daging bawal seperti menghitung biaya pakan, belanja bibit, peralatan, sewa kolam, dan bahan serta peralatan yang diperlukan hingga transportasi.

Ketiga, anda bisa memilih untuk bergabung menjadi mitra perusahaanperikanan melalui sistem inti plasma dengan sistem bagi hasil. Dengan begitu Anda bisa mendapat bantuan bibit, pakan, hingga peralatan dan obat selama budidaya. Ada juga koperasi yang menerapkan sistem pembelian pakan dengan bayar saat panen seperti yang banyak dilakukan di kawasan Pelabuhanratu, Jawa Barat.

Keempat, lakukan pemasaran melalui media internet. Namun sayang sebagian besar petani kurang memanfaatkan internet untuk berjualan. Sebaliknya tengkulak atau pengumpul ikan sebagian besar memanfaatkan pemasaran melalui internet untuk menjaring pelanggan.

Sementara itu, kendala di pembibitan adalah tingkat kematian mencapai 10-20% dari mulai telur menetas hingga bibit ukuran korek. Sedangkan kendala menjadi momok di usaha pembesaran bawal adalah serangan penyakit white spot (bintik putih) karena virus atau bakteri yang sering datang saat musim hujan yang dapat ditangani dengan memberikan garam dalam kolam.

Leave a comment

Teknik Pemijahan dan Pembesaran Benih Ikan Mas

Pemeliharaan Indukan

Induk jantan dan betina dipelihara secara terpisah dalam kolam dengan kedalaman air 80-150 cm dengan aliran air mengalir seperti dalam kolam tanah. Suhu ideal untuk kolam indukan sekitar 25-30 derajat dengan derajat keasaman pH 6,5-8,5. Sementara itu, pakan diberikan sebanyak 2 kali yakni setelah pukul 8 pagi dan 4 sore hari sebanyak 2,5% bobot tubuh. Misalnya dalam kolam terdapat 12 indukan dengan berat rat-rata 2 kg (24kg/kolam) maka pakan yang diberikan sekitar 480-1200 gram tiap harinya.

Pemijahan

Untuk kolam pemijahan, siapkan kolam tanah berukuran 500 meter persegi yang telah dikeringkan sebelumnya. Taburkan 5 kg kapur, 1 kh pupuk urea, dan 2 kg TSP serta 5 karung kotoran bebek pada dasar kolam. Isi air dan diamkan selama 2-3 hari agar tumbuh mikroorganisme atau phitoplankton sebagai pakan alami dalam kolam. Keadaan air yang cocok untuk pemijahan dan penetasan telur yakni bersuhu antara 25-30 derajat, pH 6,5-8,5, debit air kolam 0,5 liter/detik, dan ketinggian air sekitar 50-70 cm. Usahakan air yang digunakan cukup jernih dan tidak terlalu keruh seperti aliran air sungai atau irigasi sawah. Dalam kolam berukuran 500 meter persegi dapat dipijahkan 3 indukan betina dan 9 indukan jantan.

Untuk memudahkan proses pemijahan buat hapa (jaring tempat pemijahan) dibagian tengah kolam ukuran 2 x 6 x 1 meter. Agar hapa tidak mengapung, maka diberi pemberat seperti bambu. Hapa sengaja dibuat dengan jaring yang tidak rapat agar larva yang telah menetas dalam hapa dapat menyebar keseluruh bagian kolam.

Didalam hapa juga disediakan kakaban yang menutupi permukaan air dalam hapa sebagai tempat menempelnya telur ikan mas. Kakaban terbuat dari ijuk yang dijepit dengan kayu atau bambu ukuran 4 x 150 cm.

Indukan yang bagus digunakan untuk betina yang siap dipijah memiliki ciri bersih mengkilap, tidak ada cacat atau bekas luka di badan, dan insangnya bersih serta utuh. Sementara tanda-tanda indukan yang sudah matang gonad pergerakan lamban, sering melompat pada malam hari, perut gendut/membesar kearah belakang, jika diraba terasa lembek, lubang anus membengkak kemerahan. Sedangkan induk jantan apabila dilakukan pengurutan perut kearah kelamin akan mengeluarkan sperma berwarna putih susu.

Induk yang akan dipijah dimasukkan kedalam hapa. Pemijahan dilakukan dalam kolam dengan memasukkan induk betina terlebih dahulu yang kemudian disusul dengan memasukkan induk jantan secara bertahap. Hal ini bertujuan agar induk betina menelurkan telur lebih banyak. Adapun perbandingan induk yang dimasukkan 1 induk betina dan 3 induk jantan. Beri pakan sebanyak 2-5% bobot tubuh induk pada sore hari. Proses perkawinan dimulai pukul 4 sore dan induk betina akan bertelur pukul 12 malam. Keesokan paginya induk jantan dan induk betina dipisahkan dan dimasukkan kedalam kolam penampungan. Tiap ekor induk betina bisa menghasilkan 10 liter telur yang berisi 15-20 ribu butir/liter.

Penetasan

Telur menetas setelah 4 hari pada suhu 28-30 derajat. Setelah telur menetas, angkat kakaban. Dan, pembesaran larva menjadi benih masih dalam kolam yang sama. Larva/benih yang tadinya berada dalam hapa bisa menyebar keseluruh bagian kolam. 4 hari setelah menetas larva tidak diberi pakan, karena masih mempunyai cadangan makanan dari kantung telur.

Pakan pertama diberikan pada larva berumur 5 hari berupa kuning telur bebek sebanyak 5 kali dalam sehari untuk satu kolam berisi 15 ribu ekor atau benih yang berasal dar1 indukan. Sekali makan sebanyak 1 butir kuning telur bebek yang sudah direbus, artinya sebanyak 5 butir kuning telur untuk benih dari 1 indukan. Setelah 5 hari, benih bisa memakan pakan alami berupa kutu air dan plankton yang tumbuh akibat adanya pupuk di dasar kolam. Barulah setelah umur 2 minggu sejak menetas dengan ukuran 3 cm benih siap dijual.

Leave a comment

Usaha Pembibitan Ikan Konsumsi

Tidak banyak orang yang menyadari bahwa usaha pembibitan ikan konsumsi menjanjikan untung besar. Belum banyaknya pembibitan ikan konsumsi yang mengakibatkan permintaan bibit diberbagai daerah terus meningkat dan belum terpenuhi. Dua jenis ikan konsumsi yang memiliki permintaan paling tinggi adalah ikan mas dan lele.

Untuk kota Jakarta saja permintaan ikan mas mencapai 10 ton/hari yang baru terpenuhi sekitar 5 ton yang dipasok dari berbagai daerah. Begitu juga dengan lele, dengan perintaan menembus angka 85 ton/hari dan baru dapat terpenuhi sekitar 50 ton saja. Selain Jakarta, untuk daerah Semarang dan Yogjakarta saja permintaan ikan mas dan lele sekitar 25-35 ton/hari. Dari total kebutuhan tersebut 30% masih dipasok dari Jawa Timur. Tak ayal besarnya permintaan kedua jenis ikan konsumsi tersebut meningkatkan permintaan benih ikan mas dan lele.

Untung Besar

Sumber kami mengatakan, terbatasnya pasokan benih ikan menunjukkan potensi usaha pembenihan ini sangat menjanjikan, bahkan keuntungan bisa lebih dari 100%. Misal saja dari satu indukan bisa menghasilkan 100 ribu benih lele yang setelah dipelihara 40-50 hari bisa dijual dengan harga Rp.170-200/ekor benih ukuran 7 cm. Maka omset yang dapat diraup sekitar Rp.17-20 juta. Hitung saja jika petani pembibit memiliki puluhan indukan yang siap dikawinkan.

Modal yang diperlukan untuk menjadi pembibit ikan tidaklah terlalu besar. Bagi pemula bisa memulai dengan 1 induk betina dan 1 induk jantan yang memerlukan modal sekitar Rp.200-300 ribu. Untuk kolam bisa menggunakan kolam terpal dengan ukuran mulai 2 x 1 x 0,8 meter yang memerlukan modal sekitar Rp.500 ribu. Sedangkan untuk peralatan, pakan, vitamin dan probiotik, karyawan dan biaya penyusutan kolam modal yang diperlukan tak lebih dari Rp.6-7 juta tiap bulannya. Dengan demikian hanya dengan modal sekitar Rp.7-8 juta bisa mendatangkan keuntungan lebih dari 100% atau sekita Rp.10-12 juta.

Bisa Dipelajari

Untung yang besar jangan lantas membuat Anda gegabah mengambil keputusan. Ada banyak hal yang patut dipertimbangkan sebelum berkecimpung menjadi pembenih ikan konsumsi ini. Kunci sukses usaha pembenihan ini terletak pada pemilihan bibit, kondisi kolam, pemeliharaan kualitas air, pemberian pakan, vitamin dan probiotik. Untuk pemilihan bibit, indukan yang akan dijadikan bibit yang bagus adalah ikan yang telah berumur lebih dari 1,5-2 tahun dengan bobot betina lebih dari 2 kg dan jantan lebih dari 0,5 kg.

Bibit yang digunakan harus sehat dan ditandai dengan sisik yang cerah, insang bersih dan siap dikawinkan dengan ciri perut bagian bawah membuncit (berisi telur) untuk induk betina dan induk jantan telah mengeluarkan cairan putih (sperma) bila perutnya dipijat. Untuk mendapatkan bibit yang berkualitas bisa didapatkan di petani yang menyediakan indukan atau di Balai Budidaya Air Tawar (BBAT) di setiap daerah.

Adapun perbandingan induk jantan dengan betina yang digunakan pada pemijahan ikan mas 3 : 1 dan 1 : 1 atau 1 : 2 untuk pemijahan lele. Sementara itu jenis ikan mas yang biasa untuk dipijah diantaranya ikan mas Majalaya, Punten, Sinyonya, Domas, Merah/Cangkringan dan Kumpai. Sedangkan untuk lele baik lele Dumbo, super Dumbo maupun jenis Sangkuriang.

Hingga saat ini jenis lele yang paling bagus adalah jenis Sangkuriang. Lele jenis ini gerakannya lebih gesit, daging dan jumlah telurnya juga lebih banyak, mencapai 50-60 ribu butir/kg bobot indukan. Jenis kolam yang biasa digunakan untuk pembenihan yakni kolam tanah, kolam beton/tembok dan kolam terpal. Untuk pemula, kolam terpal adalah pilihan tepat bagi pemula yang ingin menjadi pembenih dengan lahan terbatas.

Jika dibandingkan dengan kolam tanah, kolam beton/tembok tentu biaya untuk membuat kolam terpal lebih sedikit, lebih simpel dan bisa dijalankan dilahan sempit. Dibalik keunggulan tersebut tetap ada kekurangan jika pembenihan dilakukan dalam terpal. Boleh saja bagi pemula, tapi umumnya pembenih yang mulai maju beralih ke kolam tembok atau tanah. Alasannya dalam kolam terpal, kotoran akan terakumulasi dan tidak terurai seperti dikolam tanah yang bisa menjadi bakteri patogen (sumber penyakit) dan toksin (racun) bagi benih dalam kolam.

Ratusan Ribu Telur

Dari pemijahan ikan mas akan menghasilkan 85-125 ribu telur/kg indukan dan 50-100 ribu telur dari induk betina lele dengan tingkat keberhasilan diatas 90-95%. Namun kesuksesan memijah dan menetaskan telur menjadi larva dan kemudian menjadi benih atau bibit ikan yang siap jual perlu sedikit ilmu pembenihan yang dapat dipelajari dengan mudah.

Waktu krisis di usaha pembenihan, terutama lele, mulai umur 15-25 hari, dimana terjadi kekosongan imunitas benih sehingga mudah terserang penyakit hingga bisa mati 100%. Jika pembenih mampu melewati fase ini maka selanjutnya tinggal menunggu masa panen.

Agar dapat melalui fase kritis tersebut, pembenih harus dapat menjaga kebersihan air dari bakteri, virus maupun kuman penyakit yang bisa datang dari kotoran yang menumpuk. Berikan 1 ppm probiotik (untuk tiap 1000 meter kubik air) untuk benih, dan 5 ppm untuk indukan. Dengan memberikan probiotik yang berisi bacuillus licheni, bacuillus subtilies, dan enzim selulosa, protese dan amilase 1-2 hari sekali dapat meningkatkan kualitas air, mendegradasi racun, amoniak, nifrit dan nitrat, mengurangi patogen, dan meningkatkan metabolisme benih.

Selain itu bisa juga memberikan vitamin C 98% dengan dosis 1 gram/10 kg pakan atau 1 gram/40 kg pakan untuk vitamin C 40%. Teknis pembenihan ikan di berbagai daerah berbeda-beda, tapi yang penting selama memperhatikan kualitas air, biasanya tidak banyak yang mati, karena memelihara benih sama denga memelihara air. Selama kualitas air, kepadatan juga perlu diperhatikan. Bagi pemula yang menggunakan kolam terpal, kepadatan ideal 50-75 ekor/meter persegi, 100-150 ekor/meter persegi bagi yang berpengalaman, 200-400 ekor/meter persegi untuk petani ikan intensif dan pertanian super intensif kepadatan bisa dimaksimalkan hingga 800-1000 ekor benih.

Yang juga penting adalah peran pakan. Berikan pakan sesuai kebutuhan ikan sekitar 5% dari bobot tubuh atau 5 ons setiap hari jika dalam kolam hanya terdapat 10 kg benih atau induk. Disamping menggunakan pakan pelet komersial, benih dan induk ikan mas dan lele bisa diberikan pakan tambahan seperti kuning telur bebek, limbah sosis, usus ayam/sapi, roti tawar, keong, bekicot, cumi, dan udang yang diberikan 1-2 hari sekali sebanyak 1% bobot tubuh.

Namun tidak semua pembenih memberikan pakan alternatif tersebut. Pasalnya bagi sebagian petani intensif cukup menggunakan pakan komersial. Berdasarkan pengamatan dan penelitian benih di lapangan, apabila menggunakan pakan tambahan bisa membuat target waktu panen meleset menjadi 70-80 hari untuk benih ikan lele dari yang seharusnya mulai umur 40 hari sudah bisa panen, meski bisa menekan pengeluaran pemberian pakan yang saat ini mencapai Rp.6-7 ribu/kg.

Cepat Panen

Panen adalah waktu yang paling ditunggu oleh setiap petani ikan.benih lele mulai bisa dipanen mulai usia 40-50 hari dengan ukuran 5-7 cm. Lain halnya dengan benih ikan mas yang bisa dipanen 14-20 hari dengan ukuran 3 cm. Adapun waktu panen biasanya dilakukan 2-3 kali karena benih yang di hasilkan tidak seragam. Jika hasil total benih lele dari satu induk unggul mencapai 100 ribu ekor, maka di umur 40 hari (panen 1) bisa mengangkat 40 ribu ekor ukuran 7 cm, lalu panen 2-3 dilakukan setiap 1 minggu berikutnya dengan jumlah panen 20-40 ribu ekor.

Sementara itu, benih ikan yang dihasilkan dari pemijahan tersebut biasanya dijual petani pembenihan ke bandar. Namun tidak jarang merak juga langsung menjual ke petani pembesaran atau ke pasar ikan yang banyak tersebar di berbagai daerah seperti Parung, Gunung Sindur Bogor, Sukabumi, Bandung Selatan, Boyolali, Demak, Kendal, Pati, Jogja, Klaten dan Indramayu untuk sentra lele. Sedangkan sentra ika mas berada di Wonogiri, Klaten, Tulungagung, Blitar, Jogja, Bogor dan Cianjur.

Adapun harga 1 ekor benih ikan lele sekitar Rp.150/ekor ukuran 4-6 cm, dan untuk ukuran 6-8 cm dijual Rp.200/ekor. Sedangkan untuk benih ikan mas ukuran 3 cm dijual dengan harga Rp.60ribu/liter, isi sekitar 15 ribu ekor.

Dari berbagai sumber yang kami dapat, bisa di simpulkan bahwa pembenihan lele lebih menjanjikan daripada ikan mas. Hal ini bisa dilihat dari jumlah permintaan lele konsumsi lebih besar, dan harga jual benih lebih mahal dari benih ikan mas meski usia panennya lebih pendek. Daya tahan lele lebih kuat dari ikan mas yang lebih mudah terserang penyakit saat musim hujan. Bukan hanya itu, besar keuntungan yang diperoleh dari usaha pembenihan lele mencapai 97%, sehingga modal yang ditanamkan bisa cepat kembali dalam 3-4 bulan.

Leave a comment

Budidaya Ikan Balita

Booming ikan mas balita sejak tahun 1997 ternyata menginspirasi banyak petani ikan untuk memanen ikan tawar lebih cepat. Jika sebelumnya ikan balita identik dengan ikan mas, kini berbagai ikan air tawar seperti nila, nilem, mujaer, lele, hingga gurame mulai banyak dipanen untuk dijadikan camilan ikan balita goreng kering.

Selain ikan mas balita, kini ikan nila balita dan nilem balita mulai diminati dan cukup digemari masyarakat. Selain sebagai lauk, ikan balita juga bisa dijadikan buah tangan. Sebut saja ikan mas balita yang dijadikan oleh-oleh khas Bogor, dan ikan nilem balita yang sejak lama terkenal sebagai oleh-oleh khas Tasikmalaya.

Syarat Budidaya

Baik ikan nila mapun ikan nilem bisa dibudidaya disetiap daerah yang memiliki aliran sungai atau selokan yang belum tercemar oleh limbah pabrik. Namun ikan nila sangat cocok dibudidaya di dataran rendah dengan ketinggian 0-700 mdpl, dan suhu 26-30 derajat. Nila juga sangat toleran terhadap kadar garam, sehingga bisa hidup dan tumbuh berkembang di air payau sekalipun. Sentra budidaya ikan nila menyebar di beberapa daerah seperti Cirata Jatiluhur, Cianjur, Tasikmalaya, Sukabumi, Gresik, Lamongan, Bali, Jambi, Lubuk Linggau, Karang Intan, serta Minahasa.

Nila Gift (Genetic Improvement for Farmed Tilapia) merupakan jenis ikan yang paling banyak dibudidaya untuk dijadikan nila balita. Pasalnya nila jenis ini lebih pesat pertumbuhannya dibandingkan dengan ikan mas. Nila jenis ini bisa dipanen dalam tempo 1 bulan. Hebatnya lagi dari 1 liter benih nila jenis ini bisa menghasilkan 100 kg nila balita, sedangkan ikan mas hanya sekitar 50-60 kg saja.

Sementara itu untuk nilem hanya cocok dipelihara di iklim sejuk dengan ketinggian mulai dari 150-1000 mdpl, tetapi yang paling baik adalah pada ketinggian 800 mdpl, dengan suhu antara 18-28 derajat.

Meskipun pertumbuhan ikan nilem tidak se-pesat ikan nila, namun ikan nilem sangat rendah biaya produksinya. Hal ini karena selama masa pembesaran dari banih menjadi ikan balita cukup memakan lumut dan plankton yang tumbuh secara alami di kolam. Hanya saja, untuk menumbuhkan pakan alami tersebut perlu memberikan kotoran ayam/pupuk kandang kedalam kolam.

Hal yang juga penting pada usaha ikan balita adalah sirkulasi air yang lancar. Untuk itu, budidaya ikan balita harus memiliki aliran air yang masuk kedalam kolam dengan kedalaman antara 50-70 cm. Dengan demikian gas amoniak dari kotoran ikan tidak menumpuk dan dapat menimbulkan penyakit.

Sangat Menjanjikan

Prospek usaha ikan balita ini sangat menjanjikan, karena jika budidaya pembesaran ikan nila maupun nilem perlu waktu antara 5-6 bulan, ikan nila balita sudah bisa dipanen sejak usia 1 bulan. Selain waktu panen yang singkat, harga jual ikan balita ke supermarket, katering dan restoran itu sangat tinggi. Untuk nila balita mencapai harga Rp.45 ribu/kg setelah dibersihkan bagian dalamnya.

Sementara itu untuk ikan nilem yang dipanen usia 2,5-3 bulan dijual dengan harga Rp.14 ribu/kg dari petani, Rp.17-20 ribu/kg bila dijual ke supermarket. Harganya bisa mencapai Rp.15 ribu/100 gram bila telah digoreng kering dan dikemas dalam plastik.

Mengingat pelaku usaha ini masih belum banyak, tentu peluangnya masih terbuka lebar. Apalagi permintaan baru terpenuhi sekitar 70% saja. Sebagai contoh saja, permintaan ikan nila balita perbulan saja lebih dari 4 ton, sedangkan dari tiap pemasok supermarket rata-rata hanya mampu menghasilkan 50-100 kg/minggu.

Pemasaran

Memang pelopor booming ikan balita adalah Katering dan Restoran Karuhun di Bogor, yang menyajikan menu ikan mas balita. Seiring permintaan yang terus meningkat, saat ini permintaan bukan hanya datang dari pengusaha restoran maupun katering. Permintaan juga banyak datang dari supermarket. Namun sayang, karena petani ikan juga melayani permintaan dari petani pembesaran ikan, akibatnya satu orang petani belum bisa memasok langsung ke supermarket, padahal selisih harga yang besar berada pada tingkat tengkulak. Petani masih belum bisa menyanggupi permintaan supermarket, jadi kebanyakan mereka jual ke tengkulak.

Kendala

Kendala penyakit budidaya ikan balita bisa dikatakan tidak ada. Hanya saja pada saat musim hujan bisa terjadi serangan virus yang membuat kulit ikan timbul bercak-bercak. Kalaupun ada kematian paling banyak hanya 10%.

Pemasaran yang terbatas ditingkat tengkulak juga jadi kendala untuk memperbesar tingkat keuntungan. Namun karena keterbatasan lahan dan modal yang diminta sebagai jaminan bila petani memasok produk ke supermarket dan pembayaran tempo membuat petani memilih menjualnya pada tengkulak.

Untung Besar

Usaha ini memang sangat menguntungkan. Selain waktu panen yang singkat, penggunaan pakan yang minim membuat usaha ini kecil biaya produksinya. Tak heran jika petani nilem balita bisa memperoleh keuntungan hingga 88%, karena nilem termasuk herbivora, jadi hanya memakan lumut dan plankton, paling hanya diberi dedak sesekali. Kunci suksesnya adalah menggunakan kolam tanah yang memiliki aliran air sungai dan untuk menumbuhkan lumut dan plankton sebagai makanan alami, bisa dibuat sistem polikultur atau longyam, yaitu membudidaya ayam diatas kolam ikan. Dengan begitu kotoran ayam langsung jatuh kedalam kolam yang menyuburkan tanah sehingga memungkinkan untuk lumut dan plankton sebagaipakan alami dalam kolam.

Leave a comment

Teknik Penetasan Telur Bebek yang Baik

Pemilihan Telur Bebek

Sebenarnya untuk usaha DOD/penetasan telur bebek menjadi meri lebih baik memiliki indukan sendiri, karena kita akan tahu riwayat hidup indukan dan telur. Karena jika hanya membeli dari luar, kita tidak tahu apakah yang kita beli telur yang bagus atau tidak, jadi harus memilih telur dahulu.

Bebek yang siap bertelur berumur 4-5 bulan. Jenis bebek yang di Cirebon, yakni bebek Rambon bisa bagus diternakkan dimana saja, baik dengan digembalakan, maupun dikandang. Ini karena bebek Rambon kakinya lebih panjang dari bebek Mojosari, sehingga larinya lebih lincah dan cepat. Selain itu bebek Rambon memiliki leher yang lebih panjang dari bebek Mojosari.

Untuk menghasilkan telur yang fertile, tentunya indukan betina harus dikawinkan dengan indukan jantan dengan perbandingan 1:10 (1 jantan mengawini 10 betina). Setiap harinya bebek bisa bertelur 1 butir. Sebenarnya ada cara untuk memperbesar ukuran telur, yakni dengan menggunakan zat pemacu berupa Ena Egg berbentuk butiran yang dicampur bersamaan dengan pakan. Namun perlakuan tersebut membuat bebek kelelehan untuk memproduksi telur, yakni yang biasanya bisa sampai 2 tahun memproduksi, namun setelah menggunakan zat tersebut hanya sampai 1,5 tahun, karena dubur atau kloakanya cepat rusak.

Alat Penetas

Usaha bebek sebelum tahun 70-an belum terorganisir dengan baik. Barulah setelah tahun 70-an dan dibuatnya alat penetasan telur, usaha bebek lebih terorganisir, walaupun untuk penggunaan alat baru dilakukan oleh 1-2 orang. Penetasan telur umumnya pada saat itu masih menggunakan bantuan entok, karena bebek tidak mau mengerami telurnya. Alat penetasan telur/incubator tersebut dinamakan “lemari odel Akhyar”, karena memang yang pertama kali menciptakan alat tersebut adalah Akhyar, seorang penduduk desa Kroya Cirebon yang kini telah lama meninggal dunia.

Dalam usaha penetasan telur, penggunaan lemari Akhyar tersebut tidak serta merta membuat telur lebih cepat menetas, namun hanya membantu kemudahan dan kepraktisan sehingga lebih ekonomis. Proses penetasan tetap memakan waktu selama 28 hari, layaknya pengeraman dengan bantuan entok. Cara ini terbilang lebih ekonomis , karenapenetasan meri tidak perlu memilki entok untuk mengerami yang pastinya membutuhkan lahan yang cukup luas. Selain bisa dilakukan diruang terbatas, denganpenggunaan alat tersebut membuat usaha ini tidak menghasilkan limbah apapun.

Lemari model Akhyar juga bisa dibuat sendiri oleh penetas meri, karena bahan dan modelnya sangat sederhana. Lemari tersebut terbuat dari bahan kayu dan triplek. Modelnya seperti lemari pakaian biasa ukuran 1 x 1 x 2 m, dengan beberapa susunan sekat/rak dari triplek beralas Koran, memiliki kaca dibagian depan agar bisa terus dipantau keadaan telurnya. Dalam 1 lemari 6 rak mampu menampung 800 butir telur bebek.

Proses Penetasan Meri

Pada proses penetasan saat ini masih dilakukan dalam 2 cara, yakni penggunaan alat yang pemanasnya dari lampu minyak dan pemanas dari listrik/kumparan/lampu. Kedua cara tersebut memilki kelebihan dan kekurangan. Misalnya pemanas dengan listrik/kumparan memilki kelebihan, yakni tidak mengeluarkan asap hitam sehingga alat tetap bersih. Karena tergantung listrik, jadi jika terjadi mati lamapu maka bisa menganggu penetasan. Sedangkan dengan cara sederhana, yakni dengan lampu minyak memang akan mengeluarkan sedikit asap hitam, namun tidak terganggu jika terjadi mati lampu.

Pada rak tingkat pertama yang berda 50 cm dari dasar lantai, terdapat wadah berbentuk Loyang kotak kue dari kaleng sebagai wadah air. Dan ruang kosong paling bawah jarak 50 cm dari dasar lantai ditempatkan sebuah lampu minyak untuk menjaga suhu agar tetap stabil di 100F dan menjaga kelembaban dengan terciptanya uap air dari air yang dipanaskan. Karena penetasan membutuhkan uap panas lembab, bukan panas kering. Pemanasan dengan lampu minyak memang yang paling cocok, karena harus dilakukan terus sampai telur menetas. Jika menggunaka lampu listrik, tidak baik karena suka berbahaya jika sedang mati lampu sehingga pembentukan meri menjadi tidak sempurna. Hal tersebut menyebabkan bentuk tubuh meri tidak sempurna.

Dengan kapasitas lemari Akhyar 800 butir telur bebek, penetas bisa mendapat untung bersih sampai Rp.400 ribu samapi menetas. Karena biaya hanya untuk bahan bakar minyak sekitar 10 liter selama 28 hari. Biaya produksi terbilang cukup sedikit karena tidak perlu pakan dan tempat yang luas.

Menurut Prof. Dr. Penny S. Hardjosworo, Praktisi Perunggasan IPB, keberhasilan penetasan telur bebek menjadi meri umumnya hanya 50%, namun jika ada yang mencapai 70-80% itu sudah sangat bagus, karena cangkang telur bebek sangat tebal sehingga memakan waktu lama dan lebih sulit dari penetasan ayam.

Untuk sentra penetasan meri di desa Kroya Cirebon, selama ini 60% telur lebih banyak dibeli dari luar, daerah seperti Indramayu, Subang, dan Brebes. Telur yang tidak fertile biasanya masuk ke dalam usaha pengasinan telur.

Untuk membedakan meri jantan dan betina, meri yang jantan pada duburnya terdapat tonjolan, sedangkan yang betina tidak. Selain itu bulu meri jantan lebih kasar dari betina. Meri yang baru menetas, bisa diberi vaksin Vitachick agar tahan penyakit, namun bisa pula tidak diberi vaksin, karena menurut Prof. Dr. Penny S. Hardjosworo, meri labih tahan penyakit daripada anak ayam.

Pakan untuk meri yang baru menetas biasanya berupa pakan pabrik, yakni Kopan/Phokphand 5-11, barulah umur 1 minggu bisa diberi menir (pecahan beras) kukus dan kangkung. Untuk pencegahan penyakit juga bisa diberikan rajangan daun mengkudu sebulan sekali.

Meri yang baru menetas biasanya hanya ditempatkan di keranjang dari kawat ram ukuran 1 x 2 m, yang dilapisi kain. Dan bila akan dibawa dalam perjalanan meri tak perlu diberi perlakuan apapun, cukup ditempatkan pada box kardus ukuran 25 x 25 cm atau tas rinjing biasa.

* Dari berbagai sumber

Leave a comment

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.